Trending Ujaran Kebencian Ustad Maaher Berpengaruh Terhadap Sumber Daya Manusia
| Sumber: @nikitamirzanimawardi_172 |
Beberapa waktu yang lalu pada tanggal 12 November 2020 polemik antara Ustadz Maaher At-Thuwailibi dengan artis Nikita Mirzani menjadi trending topik di twitter. Berawal dari story instagram Nikita Mirzani yang sempat mengomentari kepulangan Habib Rizieq Syihab ke Indonesia, yang disambut oleh beribu-ribu orang. Nikita Mirzani mengatakan istilah Habib sebagai tukang obat. Pasalnya Ustadz Maheer At-Thuwailibi tidak terima dan menganggap Nikita Mirzani telah menghina seorang Habib.
| Sumber: @NikitaMirzani |
| Sumber: @ustadzmaaher_ |
“Sumpah, biarpun gw orang biasa, tapi hati gw terpukul banget. Lihat ustadz, panutan, contoh tauladan, bilang kotor kaya gini, sumpah! Gw sakit hati banget, kita orang awam memang, maka dari itu beri contoh yang baik. Kami manusia biasa, beri tauladan contoh yang baik” Ujar akun @RahmatHamzahOF1, 12 November 2020.
“Gue emang ga setuju sm statement Nikita, tp gue jg ga stuju sama omongan itu habib yg smpe bilang lonte, jual selangkangan dll. Gimana ceritanya membela penghinaan 1 kalimat dengan balik menghina 5 kata? Bukan gue yang dikatain aja gue sakit ati dengernya? Berarti sama-sama ngehina dong? Adeuhh” Ujar akun @ayyinnii, 12 November 2020.
Dari perseteruan tersebut menjadilah ujaran kebencian. Ujaran kebencian (hate speech) adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama dan lain-lain (Zulkarnain, 2020:74). Opini netizen terhadap perkataan Ustadz Maaher At-Thuwailibi dan Nikita Mirzani sejalan juga dengan Al-Qur’an surat Al-Hujrat ayat 11 dan 12 bahwa sesama muslim tidak diperbolehkan saling merendahkan, mencari keburukan, dan menggunjingkan satu sama lain.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-prang yang zalim” . Q.S Al-Hujrat (11)
“Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan puba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari
purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang”. Q.S Al-Hujrat (12)
Perkataan yang buruk termasuk kedalam karakter seseorang. Kita ketauhi bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) sampai kapan pun akan selalu menjadi aspek yang menentukan keberlangsungan dan perjalanan sebuah bangsa. Maju mundurnya sebuah bangsa akan sangat ditentukan oleh seberapa berkualitasnya SDM yang ada di negara tersebut. Negara maju sangat berkaitan dengan karakter unggul bangsanya. Pendidikan karakter adalah sebuah usaha sadar yang sistematis dan terstruktur untuk membentuk dan memberikan penanaman nilai-nilai karakter baik dan mulia, sebagai upaya untuk mewujudkan SDM berkualitas ( Mahrdani dan Basalamah, 2018:107)
Mari kita lihat sebagai contoh seorang ustadz dan artis di Indonesia bahkan para pejabat yang korupsi masih memiliki karakter buruk dan tidak memberikan contoh yang baik kepada anak bangsa. Perlunya pembenahan pendidikan karakter di Indonesia seharusnya dilakukan sejak dini, agar proses penanaman nilai-nilai karakter lebih terinternalisasi pada diri masing-masing anak, sehingga nilai karakter tersebut akan terus melekat hingga dewasa nanti. Pendidikan karakter di sekolah sebaiknya lebih banyak prakter dibandingkan teori dan menanamkan pembiasaan.
Sumber :
Mahardani, A.s., Basalamah, M.R. 2018. “Membangun Sumber Daya Manusia Berkarakter Melalui Metode Pendidikan Karakter”. Jurnal Ketahanan Pangan, 2 (1): 106-116.
Zulkarnain. 2020. “Ujaran Kebencian (Hate Speech) di Masyarakat dalam Kajian Teologi”. Jurnal Studia Sisia Religi, 3 (1): 70-82.
Komentar
Posting Komentar