Siswa Generasi Blank Pada Masa Pandemi Covid-19
Beberapa minggu lalu
viral wawancara bupati Boyolali Seno Samodro, mengenai kebijakan pemerintah
bahwa sekolah pada masa pandemi harus terus dilakukan secara daring. Seno
Samodro mengatakan kekhawatirannya mengenai pembelajaran daring akan berdampak
negatif dikemudian hari terhadap ilmu pengetahuan peserta didik. Seno Samodro menyebut sebagai generasi blank, karena peserta didik dibiarkan
naik kelas padahal pengetahuan dan pola pikir siswa selama pembelajaran daring hanya
begitu-begitu saja belum sepenuhnya optimal.
“Lha Sing tak wedeni iki
malah iki, sekolah ora mlebu ki. Kowe lulus SD Coronane 3 tahun, mak
jegagik munggah terus to. SMA lo iki ngko, ning pola pikir e ijik SD.
Nanti akan muncul generasi blank, ini
yang ditakutkan. Lha setiap kali direbuk putrane kon sekolah, emoh ngko ndak
ketularan Corona. Padahal sekolah karo dolan ketularan Coronane gede mana? Aku ya
raiso jawab rung enek penelitian o ya”, ujar Seno Samudra dalam vidio Youtube
Taufik Irvani yang dipublikasikan pada tanggal 12/01/2021.
Pembelajaran daring kita
ketauhi bahwa pendidik hanya bisa memantau, memberikan materi, dan tugas secara
jarak jauh. Pendidik tidak dapat melihat kegiatan pembelajaran yang dilakukan
oleh peserta ddik di rumah. Kemudian pertanyaan-pertanyaan ini muncul, apakah peserta didik benar-benar melakukan pembelajaran?
Apakah orang tua sudah membimbing anak melakukan pembelajaran dengan benar?
Seorang ibu bernama
Mami yang mempunyai anak kelas 1 SMP merasa kesulitan membimbing anaknya
melakukan pembelajaran di rumah. Anak cenderung mengandalkan orang tua, dan
terlalu banyak bermain game.
“Zaki itu anak saya
kalau disuruh belajar dan ngerjain PR sendiri susahnya minta ampun, malah
ngegame terus. Kadang tugas sekolah itu yang ngerjain saya, jadi saya yang
belajar bukan anak. Kadang saya juga minta tolong kerjakan tugas Zaki ke
tetangga yang kuliah” ujar Mami, 25/01/2021.
Pendidik sudah
melakukan metode pembelajaran dengan memberikan materi dalam bentuk PPT, File
Word, memberikan refrensi buku atau web yang harus dibaca peserta didik, bahkan
mengirim vidio sebagai media pembelajaran. Namun realitanya tidak semua peserta
didik mempelajarinya dengan baik, materi yang diberikan pendidik belum tentu
dibaca, dan vidio yang sudah diberikan belum tentu disimak.
Sehingga muncul statement “Efektifkah pembelajaran
daring”. Bagi saya seorang mahasiswa pembelajaran daring kurang efektif. Karena
pendidik banyak memberikan tugas namun sedikit penjelasan materi yang
disampaikan. Tidak semua pendidik melakukan video conference untuk menjelaskan materi secara tatap muka dengan
bantuan aplikasi. Peserta didik dibiarkan belajar mandiri. Jika peserta didik
tidak paham terkadang ingin bertanya pun merasa segan. Kemampuan berfikir tiap
peserta didik sangat beragam, tidak semua peserta didik dapat memahami materi
yang diberikan oleh pendidik hanya sebatas teks. Mereka perlu penjelasan secara
langsung.
Dalam penelitian
Khusniyah & Hakim (2019:21) ditemukan masalah mahasiswa mengalami kesulitan
dalam memahami isi teks bacaan, mahasiswa memiliki kelemahan dalam mengaitkan
informasi yang dimiliki dengan teks yang dibaca.
“Menurut saya materi
yang disampaikan dosen itu lebih mudah dipahami kalau tatap muka langsung di kelas.
Saya lebih memilih luring dibandingkan daring, apalagi perempuan kalau dirumah
lagi kuliah daring sering tidak fokus karena disambil membantu orang tua” ujar
Rinda Vera Mudyasari mahahsiswa PBSI UMS, 25/01/2021.
Wawancara di atas
diperkuat dengan penelitian Malikah dkk (2020:38) 84% dari jumlah keseluruhan
siswa atau sebanyak 27 siswa memilih model pembelajaran blended. Siswa lebih memilih pembelajaran blanded karena dalam
kegiatan pembelajaran masih diterapkan proses pembelajaran tatap muka di dalam
kelas secara langsung.
Berdasarkan penelitian
Alfiyatin dkk (2020:19) hasil angket diperoleh, data yang didapat kurang dari
18% responden secara keseluruhan yang menjawab iya atau setuju. Artinya hal
tersebut tidak memenuhi kriteria efektif dalam penerapan pembelajaran daring.
Selain itu didukung dari hasil wawancara kepala madrasah dan para guru wali
kelas yang menyatakan bahwa pembelajaran daring kurang efektif diterapkan dalam
proses belajar mengajar di MI Al-Falah Dakiring socah.
Itulah mengapa Bupati
Boyolali Seno Samodro mengatakan generasi blank,
hal itu disebabkan karena pembelajaran daring belum sepenuhnya efektif, ilmu
pengetahuan siswa belum tentu meningkat. Yang ditakutkan adalah ketika peserta
didik jenjangnya semakin meningkat namun pengetahuannya kurang bahkan tidak
mengerti apa-apa. Dengan begitu perlunya pengoptimalan sistem pendidikan di
Indonesia.
Sumber :
Alfiyatin, Yuliana., dkk. 2020. “Efektivitas
Pembelajaran Daring dalam Pandangan Siswa MI Al-Falah Dakiring-Bangkalan”.
Jurnal Al-Ibrah, 5(2): 1-22.
Hr, Malikah., dkk. 2020. “Efektivitas Pembelajaran
Fully Daring Terhadap Kemampuan Penalaran Matematis Siswa”. Jurnal Media
Pendidikan Matematika, 8 (2): 31-42.
Khusniyah N. L., Hakim L. “Efektifitas Pembelajaran
Berbasis Daring: Sebuah Bukti Pada Pembelajaran Bahasa Inggris”. Jurnal TATSQIF
Pemikiran dan Penelitian Pendidikan, 17(1): 19-33.
Komentar
Posting Komentar