Pengalaman Tidak Positif Corona Namun Isolasi Mandiri
Seorang Ibu berumur 37 tahun yang memiliki 3 orang anak tinggal di sebuah desa Randusari, Ngadirojo, Wonogiri. Ibu rumah tangga tersebut berinisial ST, yang berhasil menjalani isolasi mandiri di rumah.
Pada awalnya ST memang merasa tidak enak badan namun dia terpaksa harus menjaga saudaranya yang sedang menjalani operasi kanker selama tiga hari di salah satu rumah sakit swasta Solo. Selama di rumah sakit ST hanya tidur di lantai menggunakan tikar. “Sungguh tidak nyaman” ya begitulah ujar ST. Sepulangnya dari rumah sakit dia pergi ke rumah saudaranya yang meninggal. Karena kelelahan dan tidur yang kurang sehingga ST jatuh sakit demam dan batuk pilek.
ST memutuskan untuk periksa ke Puskesmas Bantar Angin, Wonogiri, pada tanggal 21 Agustus 2020. Kata ST ketika diperiksa dokter bertanya riwayat kepergian dan gejala apa yang dirasakan oleh ST. Kemudian dokter menindaklanjuti untuk melakukan tes darah, akhirnya dokter menganjurkan bahwa ST harus menjalani isolasi mandiri dirumah selama 15 hari dan makan buah-buahan, sayur, vitamin C, dan ayam kampung yang diolah menjalani sup.
ST bertanya “dok mengapa saya harus menjalani isolasi, apakah hasil darah menunjukkan saya positif Covid-19”, namun dokter tidak menjawab hanya disarankan untuk isolasi mandiri. ST juga tidak menjalani repid test atau swab test. ST menuruti saran dari dokter, dia isolasi di rumah.
![]() |
| Sumber : Narasumber ST |
“Saya berusaha untuk sembuh, saran dokter dan teman-teman saya ikuti” ujar ST. Ketika obat sudah habis ST melakukan kontrol ke Puskesmas Ngadirojo, rujukan dari Puskesmas Wonogiri. Terdapat kejadian yang tidak mengenakan, perawat Puskesmas sangat tidak ramah dan sopan. Ketika ST ditanyakan bagaimana saat ini kondisinya, perawat tersebut menggunakan intonasi yang tinggi dan tegas. ST juga bertanya kepada dokter bagaimana hasil test dan mengapa dia harus menjalani isolasi, jika harus menjalani isolasi seharusnya diberikan hasil test bahwa postif Covid-19 dan surat yang harus diberi kepada kelurahan, RT, RW. Namun itu semua tidak diberikan oleh pihak Puskesmas.
Gosip ST terkena virus Covid-19 sudah tersebar di desa Randusari, sehingga kelurahan dan RT membantu sembako untuk ST. Terkadang tetangga juga mengantar makanan ke rumah ST. Dia hanya berusaha untuk sembuh dan menunjukan bahwa dia tidak terkena virus Covid-19.
Kata ST “setiap jam 10 pagi saya berjemur di bawah matahari”. Tidak hanya itu saran dari temannya yang menganjurkan untuk menggunakan minyak kayu putih setelah mandi juga ST ikuti. Ya ST harus menebas semua gosip tentang dirinya.
Hingga pada akhirnya 15 hari isolasi sudah selesai, ST sudah sehat dan gejala tersebut sudah hilang. Akhirnya pada tanggal 4 September 2020 dia bisa keluar rumah dan berbicara kepada tetangganya apa yang sudah dia alami.

Komentar
Posting Komentar